Save Our Heritage (2)

Start acara Wisata Sejarah Bandung dimulai di Gedung Indonesia Menggugat.  Semua peserta dipersilahkan untuk memotret bagian gedung yang didalam maupun yang diluar. Sebenernya agak minder juga mau foto-foto gedungnya, lha gimana gak minder yang lain kameranya ajib-ajib bener. But, it’s OK and never mind boso opo kui seperti biasa gaya cuek dipakai saat kondisi seperti ini. Aku keluarin kameraku dan jeprat-jepret ni gedung gak mode narso lho. Setelah puas didalam gedung, saatnya nyari lokasi diluar gedung buat difoto. Sebenernya dulu gedung ini dibangun buat dijadiin rumah biasa pada tahun 1906. Lalu bangunan dikembangkan pada tahun 1917 dan difungsikan buat gedung peradilan (Landraad) yang khusus untuk mengadili orang pribumi. Peristiwa penting yang pernah terjadi adalah pengadilan untuk Soekarno, Gatot Mangkoepradja, Maskoen Soemadipoetra, dan Soepriadinata oleh Pemerintah Belanda. Pengadilan berlangsung selama 5 bulan mulai dari tanggal 18 Agustus sampai 22 Desember 1930. Dalam proses peradilan, Soekarno dkk dibantu oleh 3 orang pembela yaitu Mr. Soejoedi, Mr. Sartono, dan Mr. Sastromoeljono. Hasil putusan peradilan menjebloskan Soekarno dkk ke penjara Sukamiskin. Soekarno sebelum diadili sempat menjalani hukuman di penjara Banceuy selama 8 bulan.

Perjalanan dilanjutin ke Gereja Bethel dan Gedung Bank Indonesia yang lokasinya gak terlalu jauh. Tapi berbeda dengan di Gedung Indonesia Menggugat, di kedua bangunan ini kami hanya dipersilahkan mengambil gambar dari luar pagar saja. Gereja Bethel dirancang oleh arsitek C. P. Wolff Schoemaker pada tahun 1925 sedangkan Gedung Bank Indonesia dibangun tahun 1915-1918 oleh arsitek Hulswit, Fermont, dan Ed. Cuypers dengan nama awal gedung ini Javanche Bank. Sempet rada kecewa, karena pengen banget masuk ke dalam Gedung Bank Indonesia secara jarang banget bisa masuk ke gedung ini. Dengan kesempatan yang diberikan sekitar 10 menit untuk masing-masing gedung, aku berusaha mengabadikan gedung bersejarah ini walaupun dengan view yang kurang enak karena terhalang oleh pagar. 20 menit gak kerasa udah habis waktunya, saatnya melanjutkan perjalanan ke Gedung Mapolwiltabes Bandung dan Gereja Santo Petrus Katedral Bandung. Jujur aja buat 2 tempat ini agak kecewa karena lagi-lagi kami harus mengabadikan gambar dari luar pagar. Di Mapolwiltabes paling parah karena pagarnya tinggi dan gedungnya agak berada dibawah permukaan jalan, jadinya gak terlalu kelihatan dengan jelas. Gedung yang beralamat di Jl. Merdeka no 16, 18, dan 20 Bandung ini dibangun pada tahun 1866 dan memiliki fungsi awal sebagai Sekolah Guru (Kweekscool Voor Inlandsche Onderwijers) atas inisiatif dari seorang Belanda yang bernama K. F. Hole. Sedangkan Gereja Katedral hanya boleh diambil gambarnya dari seberang gambar karena sedang digunakan buat beribadah. Tapi masih aja ada yang nekat ngambil gambar dari jarak dekat, dipinggir pagar gereja. Bangunan ini dirancang oleh arsitek C. P. Wolf Schoemaker pada tahun 1922.

Packdhe mengkomandoi kelompok kami buat lanjut jalan lagi dan berhenti sebentar di sekretariat PMB (Perhimpunan Mahasiswa Bandung) yang punya hajat acara ini. Disini kelompok kami mengabadikan momen bersejarah halah lebay di depan sekretariat PMB walaupun nungguin aku bentar karena kebelet pipis :P. Gedung selanjutnya yang dikunjungi adalah Gedung Mandala Wangsit Siliwangi. Parahnya aku baru tahu kalo ada museum ini di Bandung, padahal udah sering banget lewat depan gedung ini selama hampir 4 tahun tinggal di Bandung. Di halaman depan gedung terdapat beberapa peralatan perang seperti tank, panser, dan pelontar roket. Di dalam gedung gak kalah seru, ada banyak banget benda sejarah yang tersimpan. Mulai dari cemeti yang katanya bekas sabetannya justru bekas sayatan pedang, pedang katana yang digunakan oleh samurai Jepang, baju perang tentara Belanda, Indonesia, dan Pemimpin rakyat Sunda, senjata laras panjang maupun pendek, bendera panji-panji tentara, tas ransel tentara Indonesia yang terbuat dari karung goni, dan juga foto-foto perjuangan. Sayangnya kami tidak diperkenankan oleh penjaga museum untuk mengambil gambar dengan kamera kayaknya alesannya mistis sih. Tapi ada 1 ruangan yang boleh diambil gambarnya, ruang itu disebut ruang 4 lupa tanya kenapa disebut ruang 4. Di ruang 4 itu ada beberapa senjata perang yang digunakan oleh Belanda ketika perang melawan rakyat Indonesia. Di dekat pintu keluar museum ada mobil ambulance yang dulu digunakan buat mengangkut korban perang kemerdekaan mobilnya gede banget kayak minibus gitu. Perjalanan lanjut lagi ke Puskesmas Tamblong. Ternyata puskesmas ini masih beroperasi hingga sekarang, aku kira udah jadi gudang aja karena kondisi fisik gedung yang kurang terawat. Malahan temenku Packdhe baru tahu kalo ada gedung puskesmas ini gara-gara ikutan acara ini. Lanjut lagi sekedar lewat ke Gedung Toko Roti Rasa Backery.

Tujuan kami selanjutnya adalah Hotel Grand Preanger. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupku masuk ke hotel yang mewah ini. Ternyata emang dahsyat arsitekturnya. Kondisi gedung yang masih sangat bagus memuaskan kami. Dan kamipun bebas mengambil gambar karena diberikan akses masuk secara leluasa kecuali masuk kamar inap hihi. Setelah Hotel Grand Preanger kami lanjut ke Hotel Savoy Homann. Hotel ini sudah berdiri sejak jaman Belanda dan menjadi saksi sejarah ketika Konferensi Asia Afrika tahun 1955 digelar di Bandung menjadi tempat menginap para pemimpin negara. Diperjalanan menuju hotel ini, kami menemui tugu kilometer 0 Kota Bandung aku baru tahu sekarang juga nih dan mengabadikannya untuk kelompok 3. Di depan Hotel Savoy Homann juga ada Gedung Pikiran Rakyat yang dibangun tahun 1920-a925. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Gedung Merdeka yang mana digunakan untuk menggelar Konferensi Asia Afrika. Semula gedung ini dipakai sebagai tempat kegiatan sosial dengan nama Societ Concordia yang dibangun tahun 1895 atas prakarsa pengusaha kebun teh disekitar Bandung dan para opsir Belanda. Pernah direnovasi tahun 1920 dan 1928 dengan arsitek Belanda dan guru besar ITB yaitu Van Galen Last dan CP Wolff Schomaker. Pada tahun 1927 dan 1929 diadakan pembangunan kembali yang terdiri atas 2 bangunan yang disebut Gedung Schowberg dan Sociteit Concordia kemudian disatukan dan mengalami perubahan tahun 1954 saat akan digelar Konferensi Asia Afrika. Pada masa penjajahan Jepang digunakan sebagai pusat kebudayaan dengan nama Dai Toa Kaikan.

Sebelum istirahat siang kami sempet dateng ke Bioskop Dian yang berlokasi di Jl. Dalem Kaum No. 58 Bandung. Dibangun pada tahun 1923 oleh Wolff Schoemaker menjadi salah satu media informasi dari sejarah perkembangan kota Bandung dan seni budaya Sunda. Sayangnya sekarang kondisi gedung sangat tidak terawat dan justru menjadi lapangan futsal. Kawasan Pendopo Kabupaten menjadi tempat kami untuk sholat, makan, dan beristirahat sejenak. Pendopo ini dibangun pada tahun 1850 yang berfungsi sebagai gedung pemerintahan. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Kantor Pos Besar Bandung. Bangunan ini dibangun tahun 1928 sampai 1931 dengan arsitek J. Ven Gendt. Sejak dibangun hingga sekarang bangunan ini belum mengalami perubahan maupun pemugaran.

Akhirnya acara Wisata Sejarah Bandung berakhir juga. Dengan rasa capek dan energi yang tersisa setelah seharian muter-muter Kota Bandung, penutupan dilakukan di Gedung Merdeka dengan alunan musik akustik ditemani teh hangat dan kopi dengan rintikan hujan gerimis. Dengan acara ini aku jadi tahu begitu banyaknya bangunan bersejarah yang merupakan cagar budaya dan memahami pentingnya pelestarian bangunan bersejarah. Pengennya acara seperti ini giat dilakukan untuk mempromosikan bangunan-bangunan tua di Kota Bandung sebagai objek pariwisata. Tentu saja harapanku adalah Pemerintah Kota Bandung memperhatikan nasib gedung-gedung tua yang sudah tidak terawat, jangan malah dibiarkan menunggu runtuh saja. Mungkin alasan klasiknya adalah biaya perawatan gedung yang mahal  padahal barangkali duitnya dikorupsi oleh mereka. Bandung Bermartabat & Save Our Heritage.


Author: auliaafifhuda

Muslim

14 thoughts on “Save Our Heritage (2)”

    1. yup bener banget..
      kan pas jaman penjajahan, bandung jadi tempat untuk pembangunan pemerintahan kolonial belanda..
      sebenernya masih banyak lagi bangunan yg belum dikunjungi, semisal kampus ITB.

  1. itu dari taman yang ada di depan polwiltabes,, sempet manjat apa ya lupa aku.. pokoknya sesuatu gitu,, Abisnya begitu dideketin udah kabel telepon semua di pinngir katedral.. coba ngincer dari jauh,,hehe..
    Wah masih cupu bin newbie tentang fotografi,,haha :D

      1. wah,,matur nuwun,,hatur nuhun,,terima kasih,,jazakillah,,thanks you,,arigatou,,hehe :D
        Tetapi Anda lebih hebat dari saya,,hehe.. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s