Sungguh indah rencana yang Allah siapkan untuk hamba-Nya.
Gak ada yang nyangka, kalau saya mendapatkan pekerjaan yang baru secepat ini. Kata orang lain sih lebih “menjamin”.
Pada bulan itu juga Bapak resmi pensiun dari dunia kemiliteran.
Dan satu bulan kemudian adik laki-laki saya menuntaskan kuliahnya setelah mengeksekusi Sidang Tugas Akhir.
Memang sudah waktunya bagi Bapak saya untuk “ngademke pikir“. Tinggal ngemong adik perempuan saya yang masih mengenyam Sekolah Dasar.
Yang pasti, semua ini sudah diatur dengan cara-Nya yang kadang gak pernah masuk dalam hitungan manusia.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan” 55:55

Keinginan untuk segera berkunjung ke rumah-Mu sudah begitu kuat. Apalagi ada ajakan dari orang tua untuk berkunjung bersama. Semakin gak sabar aja dijamu oleh-Mu begitu mendengar ajakan orang tuaku. Semoga masih ada umur untuk kesana nantinya. Makkah & Madinah :)

Si Kuda Besi

Si Kuda Besi, hampir 10 tahun waktu yang dihabiskan bersama. Jalanan Solo sudah menjadi sirkuit balap dan saksi bisu kecepatanmu ketika muda dahulu. Jalanan Bandung sudah tidak asing bagimu. Dan yang paling gila adalah jalanan dari Bandung menuju Solo via jalur pantura. Berkat dirimu aku pertama kali mencium hitamnya aspal Cadas Pangeran dan tikungan Gembongan-Kartosuro. Ya, mencium hitamnya aspal dengan gaya rider MotoGP yang ‘ndelosor’ terpontang-panting.

Sekarang waktunya untuk berpisah. Kenangan 10 tahun itu tidak akan pernah pudar. Teriknya Solo dan banjirnya Bandung sudah pernah kita lalui. Semoga mendapatkan pemilik yang bisa merawat dirimu dengan jauh lebih baik.Jangan “nakal” dan “manja” ya, maklum kamu sudah cukup tua :P Adios :)

Ayah

Anakku! Ambillah bekal di dunia. Jangan kau terlalu menolaknya, agar kau tidak menjadi beban bagi manusia.

(Luqman Hakim as)

Ayah tidak memberitahuku bagaimana cara untuk hidup. Dia hidup dan membiarkan aku melihat bagaimana dia melakukannya.

(Clarence Budington Kelland)

Sungguh aku akan tambahkan shalatku karenamu, agar aku selalu dijaga (Allah) untukmu.

(Said bin Musayyib)

Yang ayah wariskan kepada anak-anaknya bukan kata-kata atau kekayaan, tetapi sesuatu yang tak terucapkan.

(Will Roger S)

Lebih baik dicaci semua orang daripada dibenci anak sendiri.

(Richard Henry Dana)

Anakku, janganlah jadikan dirimu lebih lemah dari ayam jantan ini. Ia bersuara di waktu sahur, sedang kamu tidur pulas di atas kasurmu.

(Luqman Hakim as)

Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi dengan teman-teman mereka. Karena dia tahu, itu adalah akhir dari masa kecil mereka.

(Phyllis Hobe)

*Mengutip kutipan dari majalah Tarbawi edisi Ayah punya caranya sendiri dalam mencintai kita*

Jangan malu dengan Al Qur’an

Suatu hari…

Mat, ente lagi ngapain Mat? Kok kayaknya serius bener.” Tanya si Ucup penasaran. “Ah kagak Cup, nih cuma mantengin Al Qur’an” Jawab si Mamat. “Wah, tumben ente Mat.” Sahut si Ucup. Memang kagak biasanya si Mamat baca Qur’an, karena dia komikus sejati. “Surat apa yang ente baca Mat?” Tanya si Ucup. Lama nungguin jawaban dari Mamat, akhirnya si Ucup jadi penasaran. “Eh Mat, ente ditanyain malah kagak jawab. Coba lihat Al Qur’an ente. Loh kok cuma selembar doank, ente robek dari mana tu Qur’an?” Si Ucup langsung ngambil lembaran yang dipegang sama si Mamat tadi. “Busyet dah, ini bukan Al Qur’an Mat. Mentang-mentang ada tulisan arabnya, ente anggep Al Qur’an. Ini tuh petunjuk obat salep kulit. Wah parah ente Mat.” Si Mamat kebingungan mau jawab apa. Sambil agak malu-malu, dia jawab dengan suara pelan, “Maklum Cup, aye belum bisa baca Qur’an. Makanya aye belajar dikit-dikit dari kertas itu. Kirain itu juga dari Al Qur’an Cup.” Si Ucup tersenyum dan bilang, “Hehehe, ente kalau mau belajar baca Qur’an jangan asal-asalan Mat. Tapi aye salut ma ente, walaupun udah gak muda lagi ente masih mau buat kenal sama Al Qur’an. Ya udah, aye ajarin pelan-pelan baca Al Qur’an ntar habis sholat tarawih di masjid. Oke Mat?” “Siap Cup, makasih banyak ya.” Jawab si Mamat dengan senang.

Mungkin cerita tadi bisa terjadi disekitar kita. Banyak orang-orang yang masih belum bisa membaca Al Qur’an, padahal dia mengaku sebagai seorang muslim. Jangan jauh-jauh deh, dikampusku aja yang belum bisa membaca Al Qur’an gak sedikit. Tahunya pas sharing bareng dan duduk melingkar dengan adik-adik angkatan yang jadi mahasiswa baru. Mereka masih ada yang belum bisa baca Al Qur’an sama sekali, tapi ada juga yang udah bisa baca tapi belum lancar alias masih terbata-bata. Ingin rasanya mereka nanti bisa membaca Al Qur’an dengan lancar, paling tidak selama kuliah disini mereka mau belajar dan ketika lulus dari kampus ini mereka sudah bisa lancar membaca Al Qur’an. Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan bagi hambanya yang mau berusaha. Buktinya dikampus ada sahabatku yang punya keinginan yang sama untuk membasmi buta huruf Al Qur’an hingga akhirnya mendirikan lembaga bimbingan  Madrasah Qur’an bagi siapa saja yang mau belajar.

Dari cerita diatas, kita gak perlu malu buat belajar Al Qur’an. Walaupun usia udah gak muda lagi, Al Qur’an wajib kita pelajari. Mempelajari Al Qur’an disini dalam pengertian melaksanakan hak dari Al Qur’an itu sendiri. Weits, emang Al Qur’an punya hak ya? Jangan salam, Al Qur’an memiliki hak dari seorang muslim. Diantaranya adalah membacanya, mentadaburinya, mengamalkannya, menghafalnya, dan mengajarkannya (dakwah). Hal yang paling mudah dan yang pertama yang wajib kita laksanakan dari hak Al Qur’an adalah membacanya. Salah satu sahabatku mengatakan bahwa tilawah (membaca) Al Qur’an itu ibadah yang paling mudah dilakukan. Disebut paling mudah karena kita bisa melaksanakannya kapan saja dan dimana saja asal jangan ditoilet ya. Pahala yang dijanjikan oleh Allah juga melimpah dari tilawah Qur’an. Allah menghitungnya per huruf, bukan perkata atau perkalimat. Bisa dibayangkan sendiri ada berapa huruf yang terdapat di Al Qur’an. Subhanallah :)

Jangan pernah merasa malu untuk belajar membaca Al Qur’an. Jangan sampai menyesal dikemudian hari karena kita tidak bisa membaca Al Qur’an.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” [ref]

Judulnya Bingung

Wuidih, udah gak kerasa seminggu lebih gak ngoprek lagi blog yang udah berumur hampir 2 tahun ini masih muda ya blogku. Gak ada maksud buat jenuh, males, atau gak mood buat ngeblog, tapi gak ada waktu yang pas buat nulis. Memang minggu kemarin jadi minggu yang sibuk, kuliah Semester Pendek udah di pertemuan terakhir, nyiapin Ujiannya juga belum, kerjaan di lab accessnet kampus juga banyak, ngurusin upgrading buat persiapan praktikum, ngurusin hardware software juga belum kelar, jangan ditanya kondisi kamar kostan kayak gimana lha wong udah tak tinggal sebulan lebih gara-gara aku milih hidup nggembel di lab. Whatever lah, yang penting enjoy, haha :D Aku sendiri juga bingung mau nulis apa sekarang. Padahal ide buat nulis sebenernya banyak banget, cuma mood buat mengungkapkan mereka gak tahu kenapa jemariku malas sekali menyentuh keyboard laptopku. Banyak momen yang kulewati minggu kemarin, ada tadarusan buku milik Roeslan Abdulgani dan bedah buku “Tangan Tangan Amerika Operasi Siluman AS di Pelbagai Belahan Dunia”, Backpacker ke Ujung Genteng yang mantab abiz, menikmati pekan terakhir summer school Elektromagnetika 2, Ujian Akhir Summer School, nonton film paling keren yaitu Inception,  sampe dapet info bahagia seseorang yang telah mengubah diriku untuk kenal dengan sebuah kata yaitu “tarbiyah” akan menikah ahad ini. Tapi walaupun begitu, aku bersyukur Allah masih menggratiskanku oksigen yang bisa kuhirup saat ini. Semuanya diatas udah ditakdirkan oleh-Nya.

Tiba-tiba aja aku teringat dengan tulisan salah seorang seniorku yang baru saja berkeluarga halaaah, Mas Pras. Beliau ini menuliskan sesuatu yang menurutku menggugah pikiran orang mampir aja ke blognya. Intinya sih, tetaplah menulis walaupun kamu sedang tidak ada ide untuk menulis. Menurut teoriku yang antah berantah, sekosong-kosongnya pikiran orang, kita masih bisa menuliskan kekosongan itu ke blog kita misalnya. Tulis saja belum ada judul, kayak lagunya Om Iwan Fals lagu paporit babeku tuh. Memang semuanya akan kembali kepada niat. Kalo niat nulis pasti bisa menghasilkan tulisan. Terlepas tulisan itu bagus atau tidak, bermutu atau tidak, memperngaruhi atau tidak. Yang jelas kita sudah bisa mengkomunikasikan pikiran kita melalui jari-jari kita. Tidak semua orang bisa melakukannya lho.

Gak tahu tulisan ini akan berefek kepada pembaca atau tidak, yang jelas tulisan ini bisa mencairkan pikiranku yang sedang dipusingkan dengan banyaknya hal yang harus dikerjakan. Memang Islam mengajarkan kita tidak boleh berleha-leha. Ketika kita selesai mengerjakan sesuatu, maka kita diminta untuk bergegas mengerjakan pekerjaan yang lain. Akan tetapi tubuh ini terbatas kemampuannya. Pengen rasanya punya kekuatan kayak Naruto dengan ilmu kagebunshin no jutsu-nya yang bisa mengkloning dirinya hingga ratusan, sehingga semua perkerjaanku selesai semuanya mulai dah gilanya. Tapi aku hanya manusia biasa, punya dua kaki, dua tangan, dua mata, satu jantung dan lainnya yang semuanya terkoneksi dengan otak. Ya, otak. Sebuah anugrah yang luar biasa dari Allah. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakan yang kamu dustakan?” (QS 55:55). Keep Blog Walking :D

Belum Ada Judul

Pernah kita sama sama susah
Terperangkap didingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah lelap
Pernah kita sama-sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masing ingatkah kau

Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara di hati

Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku sobat

Itulah lirik lagu Iwan Fals dengan judul Belum Ada Judul. Sebuah lagu yang akhir-akhir ini ada diplaylist Jet Audio dikomputer. Menurutku sih lagunya memiliki lirik yang menggugah jiwa. Kita pasti memiliki masa dimana kita berkumpul dengan sahabat-sahabat kita sewaktu kecil. Dengan perjuangan hidup yang tidaklah mudah. Hidup teruslah berputar dan kita menjalaninya sampai nafas kita yang terakhir.
Gak cuma Belum Ada Judul yang ada diplaylistku, masih ada Ibu, Sore Tugu Pancoran, dan Sesuatu Yang Tertunda (feat. Padi). Ya, memang hanya 4 judul lagu ini yang terus-menerus aku putar. Karena aku memang suka dengan lagu ini, baik dari cara Om Iwan menyanyikannya dan juga liriknya.
Secara gak langsung ini semua mengingatkanku pada sesosok orang yang aku kagumi, dialah Bapakku.
Bapak memang seorang OI sejati. Bapak pernah bercerita ke aku, tentang masa mudanya yang mengidolakan Iwan Fals. Dan puncaknya adalah ketika Bapak nonton konser Iwan Fals. Bapak ngefans karena lirik lagu Om Iwan selalu “berani” disamping juga mungkin usia antara Bapakku dan Iwan Fals gak jauh beda, ya seangkatan lah. Aku jadi ikut-ikutan tertular mengidolakan Iwan Fals karena Bapakku.
Hal yang masih jelas teringat olehku adalah ketika aku dan Bapakku pergi berdua ke rumah alm. nenekku. Kami berdua pergi bersama menaiki mobil, tentu saja Bapakku yang nyetir mobil karena sampai sekarang aku masih belum bisa nyetir mobil. Kami beruda sangat menikmati perjalanan 4 jam ditemani lagu-lagu Iwan Fals yang terus diputar sepanjang jalan.
Aku merindukan momen-momen spesial bersama Bapakku.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Bapakku.