Si Kuda Besi

Si Kuda Besi, hampir 10 tahun waktu yang dihabiskan bersama. Jalanan Solo sudah menjadi sirkuit balap dan saksi bisu kecepatanmu ketika muda dahulu. Jalanan Bandung sudah tidak asing bagimu. Dan yang paling gila adalah jalanan dari Bandung menuju Solo via jalur pantura. Berkat dirimu aku pertama kali mencium hitamnya aspal Cadas Pangeran dan tikungan Gembongan-Kartosuro. Ya, mencium hitamnya aspal dengan gaya rider MotoGP yang ‘ndelosor’ terpontang-panting.

Sekarang waktunya untuk berpisah. Kenangan 10 tahun itu tidak akan pernah pudar. Teriknya Solo dan banjirnya Bandung sudah pernah kita lalui. Semoga mendapatkan pemilik yang bisa merawat dirimu dengan jauh lebih baik.Jangan “nakal” dan “manja” ya, maklum kamu sudah cukup tua :P Adios :)

Ayah

Anakku! Ambillah bekal di dunia. Jangan kau terlalu menolaknya, agar kau tidak menjadi beban bagi manusia.

(Luqman Hakim as)

Ayah tidak memberitahuku bagaimana cara untuk hidup. Dia hidup dan membiarkan aku melihat bagaimana dia melakukannya.

(Clarence Budington Kelland)

Sungguh aku akan tambahkan shalatku karenamu, agar aku selalu dijaga (Allah) untukmu.

(Said bin Musayyib)

Yang ayah wariskan kepada anak-anaknya bukan kata-kata atau kekayaan, tetapi sesuatu yang tak terucapkan.

(Will Roger S)

Lebih baik dicaci semua orang daripada dibenci anak sendiri.

(Richard Henry Dana)

Anakku, janganlah jadikan dirimu lebih lemah dari ayam jantan ini. Ia bersuara di waktu sahur, sedang kamu tidur pulas di atas kasurmu.

(Luqman Hakim as)

Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi dengan teman-teman mereka. Karena dia tahu, itu adalah akhir dari masa kecil mereka.

(Phyllis Hobe)

*Mengutip kutipan dari majalah Tarbawi edisi Ayah punya caranya sendiri dalam mencintai kita*

Belum Ada Judul

Pernah kita sama sama susah
Terperangkap didingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah lelap
Pernah kita sama-sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masing ingatkah kau

Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara di hati

Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku sobat

Itulah lirik lagu Iwan Fals dengan judul Belum Ada Judul. Sebuah lagu yang akhir-akhir ini ada diplaylist Jet Audio dikomputer. Menurutku sih lagunya memiliki lirik yang menggugah jiwa. Kita pasti memiliki masa dimana kita berkumpul dengan sahabat-sahabat kita sewaktu kecil. Dengan perjuangan hidup yang tidaklah mudah. Hidup teruslah berputar dan kita menjalaninya sampai nafas kita yang terakhir.
Gak cuma Belum Ada Judul yang ada diplaylistku, masih ada Ibu, Sore Tugu Pancoran, dan Sesuatu Yang Tertunda (feat. Padi). Ya, memang hanya 4 judul lagu ini yang terus-menerus aku putar. Karena aku memang suka dengan lagu ini, baik dari cara Om Iwan menyanyikannya dan juga liriknya.
Secara gak langsung ini semua mengingatkanku pada sesosok orang yang aku kagumi, dialah Bapakku.
Bapak memang seorang OI sejati. Bapak pernah bercerita ke aku, tentang masa mudanya yang mengidolakan Iwan Fals. Dan puncaknya adalah ketika Bapak nonton konser Iwan Fals. Bapak ngefans karena lirik lagu Om Iwan selalu “berani” disamping juga mungkin usia antara Bapakku dan Iwan Fals gak jauh beda, ya seangkatan lah. Aku jadi ikut-ikutan tertular mengidolakan Iwan Fals karena Bapakku.
Hal yang masih jelas teringat olehku adalah ketika aku dan Bapakku pergi berdua ke rumah alm. nenekku. Kami berdua pergi bersama menaiki mobil, tentu saja Bapakku yang nyetir mobil karena sampai sekarang aku masih belum bisa nyetir mobil. Kami beruda sangat menikmati perjalanan 4 jam ditemani lagu-lagu Iwan Fals yang terus diputar sepanjang jalan.
Aku merindukan momen-momen spesial bersama Bapakku.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Bapakku.