Teh Cem-Ceman

Bagiku, minum teh itu ya minum teh. Gak ada istilah atau ritual afternoon tea kayak orang barat. Walaupun kenyataannya aku memang lebih suka mimum teh diwaktu sore hari. Kebisaan ini bermula sejak jaman aku SMP. Pada waktu itu aku pindah ke rumah asliku karena sebelumnya numpang tinggal di asrama milik kantor bapakku. Tiap sore, ibuku sering membuatkan teh beberapa gelas yang sudah disiapkan untuk semua anggota keluarga. Sampai sekarang, kebisaan itu masih terus dilakukan.

Teh cem-ceman merupakan teh yang paling aku gemari. Aku sendiri gak tahu kata cem-cemam itu berasal dari mana dan memiliki arti apa. Yang aku tahu, cem-ceman itu ya cara menyeduh teh dengan air panas biasa. Hanya saja teh yang diseduh adalah bukanlah teh celup, melainkan teh  yang masih asli dengan komposisi daun dan batang daun yang kering. Kalo di daerah Jawa khususnya Solo dan Jogja, teh cem-ceman sering dijumpai di angkringan. Dari dalam “ceret” alias teko, teh cem-ceman siap dituangkan dan diberi gula secukupnya. Begitulah cara angkringan menyajikannya.

Dari sekian merk teh yang ada, teh yang menjadi favoritku adalah teh 999 dan teh Nyapu. Dua teh ini aku kenal dari ibuku. Ibuku sering “mengoplos” kedua teh ini untuk dibuat teh cem-ceman. Kalau menurutku, kedua teh ini memiliki aroma dan rasa yang berbeda. Teh 999 memiliki aroma wangi yang khas dan ada campuran bunga melati, sehingga terasa lebih manis. Sedangkan teh nyapu memiliki rasa yang agak “sepet”. Dalam mengoplos teh cem-cemaan tidak ada takaran pasti. Semuanya terserah pada selera masing-masing pengoplos. Sebenarnya masih ada merk teh yang lain yang terkenal, seperti teh Gardoe, teh Gopek, atau teh Sintren. Tapi setelah dicoba-coba, teh yang paling aku sukai ya teh 999 dan teh Nyapu. Khusus untuk teh 999, teh ini hanya bisa dijumpai di daerah sekitar Solo. Itupun tidak semua pasar menjual teh ini. Pernah suatu ketika aku kehabisan stok teh dan frustasi mencari teh 999 di Bandung, akhirnya aku harus mengimpor langsung dari Solo melalui temanku yang sedang ada di Solo. Sehingga rasa kangenku dengan suasana teh cem-ceman bikinan ibuku bisa terobati. Cara menyajikan teh cem-ceman jika sesuai dengan “aliran” milikku adalah dengan menyeduh kental teh di poci kecil. Berhubung saya dikasih oleh-oleh temanku dari Tegal berupa seperangkat poci dan gelas, maka aku manfaatkan saja poci itu. Baru setelah teh diseduh, teh bisa dicampur dengan air panas dan ditambah gula. Yaps, aku menyukai teh dengan rasa yang benar-benar manis.

Sekarang ada teh yang pengen aku rasakan sensasinya, yaitu teh Pokil. Dari namanya saja sudah membuatku penasaran. Teh Pokil jika diartika dalam bahasa Indonesia adalah “Teh Curang”. Entah mengapa namanya bisa seperti itu. Tapi biarkanlah apapun namanya, teh ini khas racikan dari salah satu penggemar teh yaitu Pakde Blontank Poer. Kenal teh Pokil setelah aku gabung dengan salah satu forum blogger yaitu Bengawan. Bermula dari situlah aku sedikit tahu tentang teh Pokil. Pengen secepatnya pulang ke Solo dan menikmati teh ini di #RBI (Rumah Blogger Indoneisa). :D

sumber gambar teh blontea: http://paper.li/kristupa/2011/03/01

Advertisements

Long Trip to Ujung Genteng

Wisata ke Ujung Genteng ini berawal dari ajakan temen-temen yang udah biasanya travelling. Kalo belum tahu apa itu Ujung Genteng, infonya bisa dilihat disini. Sebenernya dulu masih 50:50 mau ikut apa enggak, karena lagi ikutan Summer School (baca: SP Semester Pendek) dan duit lagi mepet buat hidup di kota rantau ini. Untung yang ngajakin temen-temen yang sering backpacker nggembel, jadi masalah duit bisa ditekan. :D Tapi dengan kondisi yang pengen super hemat, kami putuskan buat naik motor kesana walaupun jarak yang mesti ditempuh lebih dari 250 km jangan dibayangin capeknya. Pengen berbagi aja buat yang mau wisata kesana sesuai dengan pengalamanku.

Berangkat 4 motor yang isinya 8 orang yaitu Fathur, Rashif, Budi, Ndank, Erik, Yakob, Sandy, dan aku Ulik dari Bandung bagian Dayeuh Kolot hari Jumat jam 14.00 dengan kondisi setelah Sholat Jumat perut sudah terisi makanan. Dipilih sekitar jam segitu dengan pertimbangan menghindari macet yang luar biasa di kawasan Cimahi ketika sore hari. Jadi bisa nyampe di Padalarang sekitar jam 15.30 pas sekalian buat sholat Ashar. Setelah itu perjalanan dilanjutnkan lagi menuju Cianjur dan Sukabumi. Dengan kecepatan motor rata-rata 60 km/jam nyantai aja yang penting selamat bisa nyampai di perbatasan Cianjur-Sukabumi pas waktu Maghrib. Sholat Maghrib dulu ya sob :D Lanjut lagi perjalanan menuju Sukabumi dengan jalan nyantai dan motor beriringan karena udah malam. Istirahat sejenak sekitar jam 20.00 di kota Sukabumi untuk makan malam. Kami terpaksa menunda sholat Isya tepat waktu karena untuk mengejar sampai di Sukabumi agar tidak  terlalu malam. Dasar mahasiswa, backpacker’an lagi, hidup harus lebih hemat. Aku udah bawa bekal dari kampus buat makan malam, jadi duit gak keluar banyak. Sebagian temen-temen ada yang beli makan nasi doreng si pinggir jalan buat nyari yang murah. tak lupa kami tanya dulu berapa harganya sebelum memutuskan apakah jadi makan ditempat itu atau tidak. :D

Setelah makan malam, perjalanan dilanjutin lagi dengan stamina baru padahal capek. Walaupun dapet saran dari yang jual nasi goreng dan warga sekitar, mendingan nginep dulu di Sukabumi baru nanti setelah subuh berangkat lagi. Karena setelah Sukabumi, yang dilewatin hanyalah hutan belantara. Kami putuskan buat tetep berangkat karena pengen mengejar sunrise di Pantai Ujung Genteng. Target berikutnya adalah daerah Surade dan akhirnya kami sampai di ujung kota Sukabumi. Ada 2 pilihan untuk menuju Surade. Opsi pertama adalah langsung menuju Surade dengan resiko hutan belantara, jalan naik turun, berkelok-kelok tepi jurang, dan jarak rumah penduduk sangat jauh. Tetapi keuntungannya waktu tempuh makin cepat. Opsi kedua melewati Pelabuhan Ratu baru ke Surade dengan resiko jalur yang ditempuh makin jauh sehingga waktunya makin lama karena rute ini memutar jauh. Tetapi keuntungannya jalannya lurus tidak banyak kelokan dan jarak antar rumah penduduk tidak terlalu jauh. Opsi kedua yang dipilih, sesuai dengan nasehat dari salah seorang warga sekitar (Bapaknya ternyata asli Jogja) :D Bapaknya lupa namanya euy nagsih petunjuk jalan untuk menuju Pelabuhan Ratu. Kami pun melanjutkan perjalanan. Sekitar jam 21.00 kami istirahat sejenak untuk Sholat Isya dan isi bensin motor sembari ngobrol-ngobrol bareng petugas SPBU. Dari hasil ngobrol-ngobrol, kami dapet info kalo menuju Pelabuhan Ratu masih sekitar 40 km lalu ke Surade 100km lagi, sehingga total masih 140 km lagi jarak yang harus ditempuh. Dengan tenaga yang tersisa, kami tetep semangat buat melanjutkan perjalanan demi sunrise pantai Ujung Genteng.

Pelabuhan Ratu! Akhirnya kami sampai di Pelabuhan Ratu, tapi perjalanan belum selesai. Disinilah tantangan dimulai. Hanya 4 motor 8 orang, kami sendirian menyisir jalanan Pelabuhan Ratu – Surade. Ternyata jalanan yang dilewati tidaklah seindah yang dibayangkan oleh kami. Jalanannya naik turun, berkelok tajam, banyak lubang, dan sangat sepi. Yang ada dipikiranku saat itu adalah, misal ban motor bocor, ya sudah tamat riwayat kami. Bagaimana mau nyari tukang tambal ban, lha wong sepanjang jalan hanya ada pohon, pohon, dan jurang. Alhamdulillah kami tidak mengalami hal itu. Perjalanan dihentikan sejenak karena kami sangat kelelahan. Kami berhenti di atas gunung yang pinggirnya jurang, angin darat berhembus kencang karena sebelah gunung sudah pantai. Cukup 15 menit saja istirahatnya, perjalanan menuju Surade dilanjutkan lagi.

Finally, Surade! :D Tepat hari Sabtu jam 00.00 kami tiba di Surade. Berhenti sejenak untuk mengisi bensin motor kami agar nanti pagi bisa langsung tancap gas ke Ujung Genteng. Kami berunding untuk menentukan tempat istirahat malam, apakah di penginapan mustahil banget nih, SPBU atau Masjid Surade. Akhirnya dipilih Masjid Surade agar bisa bangun pagi tepat waktu sekaligus Sholat Subuh berjamaan disana. Jam 00.30 akhirnya tiba juga di Masjid Surade dan tanpa basa-basi langsung tidur di serambi masjid pintu utama masjid dikunci sih beralaskan lantai yang sangat dingin dan berselimutkan sarung. :D Pagi buta setelah sholat Subuh, perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Ujung Genteng. And finally! Ujung Genteng! Touchdown! :D

Hasil dari backpacker nggembel ke Ujung Genteng 3 bulan yang lalu. Yah, hasil jepretan foto dari Fathur yang emang jago kalo masalah jepret-menjepret kayak gini.

1. Pantai Ujung Genteng

Pantai Ujung Genteng terlihat indah saat pagi hari ketika matahari mulai muncul dari tengah-tengah laut. Disini banyak kapal-kapan nelayan yang “parkir” setelah melayar di laut lepas.

2. Pantai Cibuaya

Rute berikutnya adalah Pantai Cibuaya. Pantai ini memiliki keindahan dengan pantai pasir putih dan airnya yang bening. Pantai ini membentang hingga beberapa kilometer panjangnya dan suasana di pantai ini masih sepi dari pengunjung.

3. Pantai Pangumbahan

Pantai ini memiliki ombak yang cukup besar sehingga biasa digunakan untuk bermain selancar oleh para bule-bule luar negeri yang sedang berlibur. Disini juga terdapat bekas bangunan yang dulunya untuk saluran air laut, tetapi sekarang sudah tidak digunakan lagi. Sehingga bisa digunakan untuk bermain air dan merasakan besarnya ombak di pantai ini. Saat sore hari, biasanya ada pelepasan tukik alias anak penyu ke laut.

4. Pantai Cipanarikan

Pantai Cipanarikan merupakan pertemuan antara air asin dengan air tawar. Sungai yang berujung di pantai ini memberikan sensari tersendiri. Setelah bermain air dan berenang di pantai kami bisa langung berenang di sungai yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari bibir pantai. Pantai ini sering dikunjungi oleh wisatawan karena pantai ini benar-benar cantik.

5. Pantai Ombak Tujuh

Dari sekian pantai yang ada di kawasan Ujung Genteng, menurutku Pantai Ombak Tujuh menjadi best of the best. Pantai yang benar-benar msih alami tak tersentuh oleh orang banyak. Untuk menuju pantai ini diperlukan waktu sekitar 1 jam dengan melewati hutan dan sungai yang tanpa ada jembatannya. Mending kalo ada jalan yang bisa dilewati motor dengan normal, justru kami harus melewati jalan setapak. Bekal makanan dan minuman sebaiknya disipakan terlebih dahulu karena di pantai ini tidak ada seorang warga yang tinggal. Butuh pemandu dari warga sekitar untuk bisa sampai ke pantai ini, dengn bayaran sekitar Rp. 120.000 kita bisa menapakkan kaki di Pantai Ombak Tujuh.

Setelah seharian dari pagi hingga maghrib kami menjelajahi Ujung Genteng, waktunya untuk mencari tempat yang bisa digunakan untuk istirahat malam. Sasaran utama kali ini adalah SPBU Surade. Setelah meminta izin dari petugas yang jaga di SPBU tersebut, kami diijinkan untuk menginap di mushola SPBU. Namanya juga mahasiswa backpacker nggembel, walaupun sebenarnya di Ujung Genteng sudah banyak tempat penginapan maupun villa masih aja cari yang gratisan.

Hari Ahad pagi, tujuan terakhir dari adventure ini adalah Curug Cikaso. Ada tips untuk menuju lokasi ini. Untuk wisatawan biasanya diharuskan untuk naik perahu dengan biaya 80 ribu untuk tiap perahu yang hanya muat untuk 8 orang setelah masuk dari pintu loket. Padahal dengan jalan kaki sekitar 200 meter melewati pematang sawah, Curug Cikaso sudah bisa ditemui. Alasan menggunakan perahu adalah tanah sawah warga bisa rusak. Padahal warga sekitar lalu lalang melewati sawah itu biasa saja -_-” Kami mengakali hal tersebut dengan cara datang pagi-pagi sekitar jam 7 sudah sampai di pintu loket. Untuk masuk ke loket, kami secara bertahap tiap 1 motor masuk ke depan pintu loket dan hanya membayar tiket masuk sebesar 2000. Lalu berjalan melewati sawah untuk menghindari naik perahu. Kemudian jika rombongan pertama sudah sampai di curug, rombongan 1 motor melanjutkan kembali rencana yang sesuai dengan rombongan pertama tadi hingga motor keempat. Sebelumnya kami sudah briefing dulu untuk mencari jalan setapak lewat sawah berbekal informasi dari yang sudah pernah main kesini.

Selesai sudah perjalanan panjang kami menuju Ujung Genteng. Kami pulang menuju bandung sekitar jam 10. Rute yang kami pilih untuk balik ke bandung adalah opsi pertama, yaitu langsung dari Surade menuju Sukabumi. Dengan resiko jalanan yang manantang, kami ambil resiko itu karena ingin membandingkan kedua rute itu dan lebih cepat sampai. Tak dinaya tak disangka, jalur yang dipilih lebih menantang dari opsi kedua. Lengkap sudah liburan kali ini, punya temen-temen backpacker yang suka travelling. Total biaya yang dikeluarkan hanya 125 ribu rupiah, itu sudah termasuk uang bensin, makan 3 hari, biaya masuk tempat wisata, dan bayar untuk pemandu ke Pantai Ombak Tujuh.  Bahagianya bisa mejelajahi bumi Allah yang Dia ciptakan dengan sempurna.

Save Our Heritage (2)

Start acara Wisata Sejarah Bandung dimulai di Gedung Indonesia Menggugat.  Semua peserta dipersilahkan untuk memotret bagian gedung yang didalam maupun yang diluar. Sebenernya agak minder juga mau foto-foto gedungnya, lha gimana gak minder yang lain kameranya ajib-ajib bener. But, it’s OK and never mind boso opo kui seperti biasa gaya cuek dipakai saat kondisi seperti ini. Aku keluarin kameraku dan jeprat-jepret ni gedung gak mode narso lho. Setelah puas didalam gedung, saatnya nyari lokasi diluar gedung buat difoto. Sebenernya dulu gedung ini dibangun buat dijadiin rumah biasa pada tahun 1906. Lalu bangunan dikembangkan pada tahun 1917 dan difungsikan buat gedung peradilan (Landraad) yang khusus untuk mengadili orang pribumi. Peristiwa penting yang pernah terjadi adalah pengadilan untuk Soekarno, Gatot Mangkoepradja, Maskoen Soemadipoetra, dan Soepriadinata oleh Pemerintah Belanda. Pengadilan berlangsung selama 5 bulan mulai dari tanggal 18 Agustus sampai 22 Desember 1930. Dalam proses peradilan, Soekarno dkk dibantu oleh 3 orang pembela yaitu Mr. Soejoedi, Mr. Sartono, dan Mr. Sastromoeljono. Hasil putusan peradilan menjebloskan Soekarno dkk ke penjara Sukamiskin. Soekarno sebelum diadili sempat menjalani hukuman di penjara Banceuy selama 8 bulan.

Perjalanan dilanjutin ke Gereja Bethel dan Gedung Bank Indonesia yang lokasinya gak terlalu jauh. Tapi berbeda dengan di Gedung Indonesia Menggugat, di kedua bangunan ini kami hanya dipersilahkan mengambil gambar dari luar pagar saja. Gereja Bethel dirancang oleh arsitek C. P. Wolff Schoemaker pada tahun 1925 sedangkan Gedung Bank Indonesia dibangun tahun 1915-1918 oleh arsitek Hulswit, Fermont, dan Ed. Cuypers dengan nama awal gedung ini Javanche Bank. Sempet rada kecewa, karena pengen banget masuk ke dalam Gedung Bank Indonesia secara jarang banget bisa masuk ke gedung ini. Dengan kesempatan yang diberikan sekitar 10 menit untuk masing-masing gedung, aku berusaha mengabadikan gedung bersejarah ini walaupun dengan view yang kurang enak karena terhalang oleh pagar. 20 menit gak kerasa udah habis waktunya, saatnya melanjutkan perjalanan ke Gedung Mapolwiltabes Bandung dan Gereja Santo Petrus Katedral Bandung. Jujur aja buat 2 tempat ini agak kecewa karena lagi-lagi kami harus mengabadikan gambar dari luar pagar. Di Mapolwiltabes paling parah karena pagarnya tinggi dan gedungnya agak berada dibawah permukaan jalan, jadinya gak terlalu kelihatan dengan jelas. Gedung yang beralamat di Jl. Merdeka no 16, 18, dan 20 Bandung ini dibangun pada tahun 1866 dan memiliki fungsi awal sebagai Sekolah Guru (Kweekscool Voor Inlandsche Onderwijers) atas inisiatif dari seorang Belanda yang bernama K. F. Hole. Sedangkan Gereja Katedral hanya boleh diambil gambarnya dari seberang gambar karena sedang digunakan buat beribadah. Tapi masih aja ada yang nekat ngambil gambar dari jarak dekat, dipinggir pagar gereja. Bangunan ini dirancang oleh arsitek C. P. Wolf Schoemaker pada tahun 1922.

Packdhe mengkomandoi kelompok kami buat lanjut jalan lagi dan berhenti sebentar di sekretariat PMB (Perhimpunan Mahasiswa Bandung) yang punya hajat acara ini. Disini kelompok kami mengabadikan momen bersejarah halah lebay di depan sekretariat PMB walaupun nungguin aku bentar karena kebelet pipis :P. Gedung selanjutnya yang dikunjungi adalah Gedung Mandala Wangsit Siliwangi. Parahnya aku baru tahu kalo ada museum ini di Bandung, padahal udah sering banget lewat depan gedung ini selama hampir 4 tahun tinggal di Bandung. Di halaman depan gedung terdapat beberapa peralatan perang seperti tank, panser, dan pelontar roket. Di dalam gedung gak kalah seru, ada banyak banget benda sejarah yang tersimpan. Mulai dari cemeti yang katanya bekas sabetannya justru bekas sayatan pedang, pedang katana yang digunakan oleh samurai Jepang, baju perang tentara Belanda, Indonesia, dan Pemimpin rakyat Sunda, senjata laras panjang maupun pendek, bendera panji-panji tentara, tas ransel tentara Indonesia yang terbuat dari karung goni, dan juga foto-foto perjuangan. Sayangnya kami tidak diperkenankan oleh penjaga museum untuk mengambil gambar dengan kamera kayaknya alesannya mistis sih. Tapi ada 1 ruangan yang boleh diambil gambarnya, ruang itu disebut ruang 4 lupa tanya kenapa disebut ruang 4. Di ruang 4 itu ada beberapa senjata perang yang digunakan oleh Belanda ketika perang melawan rakyat Indonesia. Di dekat pintu keluar museum ada mobil ambulance yang dulu digunakan buat mengangkut korban perang kemerdekaan mobilnya gede banget kayak minibus gitu. Perjalanan lanjut lagi ke Puskesmas Tamblong. Ternyata puskesmas ini masih beroperasi hingga sekarang, aku kira udah jadi gudang aja karena kondisi fisik gedung yang kurang terawat. Malahan temenku Packdhe baru tahu kalo ada gedung puskesmas ini gara-gara ikutan acara ini. Lanjut lagi sekedar lewat ke Gedung Toko Roti Rasa Backery.

Tujuan kami selanjutnya adalah Hotel Grand Preanger. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupku masuk ke hotel yang mewah ini. Ternyata emang dahsyat arsitekturnya. Kondisi gedung yang masih sangat bagus memuaskan kami. Dan kamipun bebas mengambil gambar karena diberikan akses masuk secara leluasa kecuali masuk kamar inap hihi. Setelah Hotel Grand Preanger kami lanjut ke Hotel Savoy Homann. Hotel ini sudah berdiri sejak jaman Belanda dan menjadi saksi sejarah ketika Konferensi Asia Afrika tahun 1955 digelar di Bandung menjadi tempat menginap para pemimpin negara. Diperjalanan menuju hotel ini, kami menemui tugu kilometer 0 Kota Bandung aku baru tahu sekarang juga nih dan mengabadikannya untuk kelompok 3. Di depan Hotel Savoy Homann juga ada Gedung Pikiran Rakyat yang dibangun tahun 1920-a925. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Gedung Merdeka yang mana digunakan untuk menggelar Konferensi Asia Afrika. Semula gedung ini dipakai sebagai tempat kegiatan sosial dengan nama Societ Concordia yang dibangun tahun 1895 atas prakarsa pengusaha kebun teh disekitar Bandung dan para opsir Belanda. Pernah direnovasi tahun 1920 dan 1928 dengan arsitek Belanda dan guru besar ITB yaitu Van Galen Last dan CP Wolff Schomaker. Pada tahun 1927 dan 1929 diadakan pembangunan kembali yang terdiri atas 2 bangunan yang disebut Gedung Schowberg dan Sociteit Concordia kemudian disatukan dan mengalami perubahan tahun 1954 saat akan digelar Konferensi Asia Afrika. Pada masa penjajahan Jepang digunakan sebagai pusat kebudayaan dengan nama Dai Toa Kaikan.

Sebelum istirahat siang kami sempet dateng ke Bioskop Dian yang berlokasi di Jl. Dalem Kaum No. 58 Bandung. Dibangun pada tahun 1923 oleh Wolff Schoemaker menjadi salah satu media informasi dari sejarah perkembangan kota Bandung dan seni budaya Sunda. Sayangnya sekarang kondisi gedung sangat tidak terawat dan justru menjadi lapangan futsal. Kawasan Pendopo Kabupaten menjadi tempat kami untuk sholat, makan, dan beristirahat sejenak. Pendopo ini dibangun pada tahun 1850 yang berfungsi sebagai gedung pemerintahan. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Kantor Pos Besar Bandung. Bangunan ini dibangun tahun 1928 sampai 1931 dengan arsitek J. Ven Gendt. Sejak dibangun hingga sekarang bangunan ini belum mengalami perubahan maupun pemugaran.

Akhirnya acara Wisata Sejarah Bandung berakhir juga. Dengan rasa capek dan energi yang tersisa setelah seharian muter-muter Kota Bandung, penutupan dilakukan di Gedung Merdeka dengan alunan musik akustik ditemani teh hangat dan kopi dengan rintikan hujan gerimis. Dengan acara ini aku jadi tahu begitu banyaknya bangunan bersejarah yang merupakan cagar budaya dan memahami pentingnya pelestarian bangunan bersejarah. Pengennya acara seperti ini giat dilakukan untuk mempromosikan bangunan-bangunan tua di Kota Bandung sebagai objek pariwisata. Tentu saja harapanku adalah Pemerintah Kota Bandung memperhatikan nasib gedung-gedung tua yang sudah tidak terawat, jangan malah dibiarkan menunggu runtuh saja. Mungkin alasan klasiknya adalah biaya perawatan gedung yang mahal  padahal barangkali duitnya dikorupsi oleh mereka. Bandung Bermartabat & Save Our Heritage.


Save Our Heritage (1)

Wisata Sejarah Bandung dengan tema Save Our Heritage merupakan suatu acara yang diadakan dengan mengunjungi bangunan-bangunan tua yang bersejarah di kota Bandung. Sebenernya sih berawal dari obrolan ringan ala kopi darat waktu chatting sama sohibku Packdhe pas malam minggu. Dia ngajakin buat ikutan acara itu dengan rayuan-rayuan gombalnya biar bisa mengunjungi dan mengabadikan gedung-gedung bersejarah itu. Pengen ikutan tapi berat diongkos pas tahu biaya pendaftarannya Rp. 30.000 buat mahasiswa untuk mahasiswa sekelasku bisa buat makan 2 hari tuh. Tapi dengan tawaran yang diberikan oleh panitia, aku mulai mempertimbangkan buat ikutan acaranya. Setelah dihitung-hitung dengan target kunjungan gedung tua sejumlah 25 cukup menggiurkan diriku untuk mengikutinya. Masih belum yakin mau ikutan pa enggak, karena aku pikir pasti banyak yang ikut dari anak fotografi yang kameranya udah SLR, sedangkan aku masih camdig biasa aja. Hoahheem, sempet mikir minder juga ntar pas disana. Untungnya dapet petuah dari Packdhe, “Lebih menyenangkan mengabadikan suatu momen dengan kamera sendiri walaupun camdig biasa”. Langung dah, aku ngikutin saran sohibku tadi buat ikut acara Wisata Sejarah Bandung.

Ahad 18 Juli 2010 jam 07.00 di Gedung Indonesia Menggugat (Jl.Perintis Kemerdekaan No.5 Bandung) udah ramai dengan orang-orang. Ada puluhan orang yang mau ikutan acara ini. Ternyata yang ikutan acara ini dari berbagai komunitas mulai dari komunitas fotografi, komunitas pecinta sejarah, komunitas sinematografi, pengajar dan mahasiswa kayak aku ini. Sebelum pendaftaran kami mengisi amunisi perut dulu biar  ntar gak pingsan ditengah jalan. Pendaftaran baru dilakukan sekitar jam 08.00 kebiasaaan molor dengan bayar Rp. 30.000, terus dibagi menjadi kelompok-kelompok yang isinya 10 orang. Aku termasuk di kelompok 3 dengan personil Packdhe as a captain, Mas Rais (alumni ITT), Agung (ITB), teh Puput (Unisba), Dwina (ITB), Nurinda (ITB), Hugo, Rico, dan Fahrul serta team guide kami adalah manusia paling super hiperaktif yang pernah aku temui yaitu Doewie.


Ada 25 Gedung yang akan dikunjungi oleh semua peserta Wisata Sejarah Bandung ini. Diantaranya adalah:

1. Gedung Indonesia Menggugat
2. Greja Bathel
3. Bank Indonesia Bandung
4. Polwiltabes Bandung
5. Greja Katedral
6. Museum Mandala Wangsit
7. Hotel Royal Place
8. Puskesmas Tambolong
9. Rasa Backery
10. Bank Pasiffik
11. Hotel Grand Preanger
12. Hotel Savoi Homann
13. Kantor PR
14. Kimia Farma
15. D’vries
16. Gedung Merdeka
17. Bank Mandiri
18. Bioskop Diana
19. Pendopo & Rm. Dinas Walikota Bandung
20. Masjid Raya Bandung
21. Kantor Pos Bandung
22. Sel Banceuy
23. BTPN
24. Bank Jabar
25. New Majestic

Yup yup, perjalanan dimulai (lanjut ke postingan berikutnya ya)