SMS (Seneng Melu Sepur)

SMS alias Seneng Melu Sepur sudah gak asing lagi buat warga sekitar Solo-Jogja yang biasa naik kereta api kelas ekonomi. Yaps, seneng melu sepur merupakan kumpulan para pedagang asongan yang sering mondar-mandir di dalam gerbong kereta api kelas ekonomi. Dengan setelan nyentrik, mereka selalu menggunakan rompi khusus anti peluru bercorak batik dan berwarna hitam. Hebatnya lagi, masing-masing pedagang memiliki nomer yang berbeda dipunggung mereka kayak pemain sepak bola aja. Mulai mengenal kumpulan pedagang ini sebenernya udah lama sejak beberapa tahun yang lalu di dalam gerbong kereta api kelas ekonomi. Maaf saja bagi pengguna kereta api kelas bisnis atau eksekutif, Anda gak bakalan nemuin mereka didalam gerbong. Aku sendiri sudah hafal dengan beberapa pedagang yang menjajakan dagangannya, karena kalo balik ke rumah di Kartosuro pasti menggunakan kereta kelas ekonomi ini. Walaupun dengan kondisi di dalam gerbong yang tidak nyaman, tapi aku masih aja nekat makai kereta ini. Gimana sejarahnya aku bisa kenal kereta api kelas ekonomi, baca aja tulisan yang ini. Gak cuma pas liburan aja, pas lebaran tetep nekat naik kereta ekonomi ini. Disaat harga tiket bus dan kereta api naik lebih dari 100%, kereta api kelas ekonomi tetap merakyat alias gak naikin harga. Teringat dengan mudik kemarin, temen-temen yang mudik paling tidak ngeluarin duit 150-200 ribu buat mudik, sedangakan aku cukup dengan 20ribu udah bisa nyampe kota tujuan. Berawal dari rencana mudik bareng sohib yang udah kayak saudara sendiri, Toha, kita emang cuma punya rencana buat mudik bareng naik kereta kelas ekonomi. Udah tahu segala resiko yang bakal dihadapi, maklum udah punya pengalaman 4 tahun tentang kereta ini. Duit 20ribu sebenernya baru bisa nganterin kami ke daerah Kutoarjo (Purworejo, 1 jam sebelum Jogja) walaupun dengan kondisi duduk lesehan di gerbong, karena kereta yang bisa langsung ke Solo udah dijejali penumpang yang sekalian ke Jawa Timur. Sesampainya di Kutoarjo jam 9 pagi kami bingung mau naik kereta apa karena kereta Prameks antar kota tujuan Kutoarjo-Jogja-Solo mau berangkat dan ada lagi jam 3 sore. Gak mungkin kami nungguin kereta selama itu di stasiun lagipula aku juga gak mau naik kereta itu karena harganya 19ribu buat ke Solo sama aja balik bandung lagi, tapi ternyata ada kereta api kelas ekonomi lain yang menuju arah Solo. Disinilah kami melakukan hal yang tidak sepatutnya dicontoh kalo mau juga silahkan, naik kereta tanpa beli tiket. :D Dengan muka cuek+capek nekat aja naik kereta dan berdiri di dekat sambungan gerbong, urusan nanti di dalam gerbong dimintain tiket itu urusan nanti yang penting bisa keangkut kereta dulu. :D Wuuussshhh, kereta melaju cepat gak kerasa udah sampai di Jogja. Disinilah aku ketemu dengan SMS tadi. Pikiran yang semula nyantai sepoi-sepoi, makjegagik (tiba-tiba) kaget dengan kehadiran petugas yang biasa mengecek tiket penumpang. Pikiran yang muncul adalah pokokya bisa nyampe Solo tapi gak bayar, akhirnya ide yang keluar adalah kami merangsek ke gerbong depan karena petugas ngecek tiket dari gerbong paling belakang. Seperti Tom and Jerry, kami main kucing-kucingan degan petugas kereta api. Padahal dari Jogja ke Solo butuh waktu 1 jam, ditengah-tengah perjalanan ada Stasiun Klaten sekitar setengah jam dari Jogja. Akhirnya kami putuskan buat turun di Stasiun Klaten, Toha udah dijemput saudaranya disitu dan aku balik lagi ke gerbong paling belakang kereta prediksiku petugas udah selesai ngecek gerbong paling belakang. Wah ternyata prediksiku benar, petugas udah ada di gerbong bagian tengah kereta dan aku langsung naik di gerbong paling belakang duduk nyantai di deket sambungan gerbong sampai Solo. :D Dasar udah ngeyel jiwa-jiwa backpacker nggembel, kondisi paling gak enakpun bisa aja tetep enjoy. :D I have my own way :)

KA Kahuripan Railfans

“KA Kahuripan Ekspres siap diberangkatkan dari jalur tujuh”. Itulah kalimat yang aku dengar dari dalam kereta ketika meluncur dari Stasiun Kiaracondong Bandung. Kereta Kahuripan ini melayani rute Kediri-Bandung. Kereta ini termasuk kereta yang paling banyak mengalami perubahan rute. Pada awalnya, rute KA Kahuripan ini melayani rute Kediri-Bandung-Pasar Senen, namun sejak 26 Juli 1995 rutenya dipotong sehingga hanya melayani rute Kediri-Bandung. Walaupun dengan kondisi yang sedikit tidak nyaman didalam kereta, tetap saja kalau mudik ke kampung halaman selalu naik kereta ini. Biasanya kereta ini dipanggil dengan sebutan “kereto abang” (kereta merah). Cuman gara-gara warna lokomotifnya merah.

Sudah jadi kebiasaanku sejak awal kuliah kalau bolak-balik pulang naik kereta kelas ekonomi ini. Rutinitas ini berawal dari ajakan sahabatku somphil, dia bilang dengan duit 27ribu perak bisa nyampe rumah. Tanpa pikir panjang aku sih langsung mengiyakan aja, secara kalo naik bus atau kereta kelas bisnis/eksekutif nyampe ratusan ribu. Awalnya sih cuma coba-coba aja, namanya juga anak muda pengen sesuatu yang baru tapi lama kelamaan malah ketagihan naik kereta ini.

Berbagai model pengalaman udah aku rasakan dengan menaiki kereta eko ini. Mulai dari style alias gaya  standar duduk dikursi sampe gaya duduk dilantai, duduk gantian (aku berdiri temenku duduk dan sebaliknya terus-terusan), berdiri dengan 2 kaki, jongkok. Semuanya pernah aku alami dengan senang hati tapi kadang-kadang juga makian yang terlontar dari mulutku (gara-gara asap rokok biasanya). Tapi posisi paling favorit bin enak yang pernah aku alami adalah tidur telentang diatas kursi. Padahal kursinya bisa muat buat 3 orang lho. Kalau kondisi kereta lagi kosong, biasanya style kayak gini bisa dinikmati dengan senikmat-nikmatnya.

Harapanku sekarang adalah semoga Kereta Kahuripan ini tetap dioperasikan oleh PT. KAI dengan perbaikan di gerbong dan penjualan tiketnya. Yaps, kondisi gerbong yang semakin tahun semakin hancur dan penjualan tiket yang dijual melebihi kuota penumpang yang bisa diangkut (maap ya Pak).