
Aseli,, saya rindu linux!!!

Aseli,, saya rindu linux!!!
“Hidup itu bagaikan minum jamu. Walaupun terkadang pahit, tapi ada segelas yang manis di ujungnya.”
Mirip dengan 2011-ku. Terkadang pahit diawal tahun. Dengan belum kelarnya TA sehingga berbuntut pada gak jadinya wisuda periode maret. Tapi manis diujung tahun dengan ditambahkannya rizki.
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan” 55:55
Gerimis masih setia diluar sana, setelah hujan yang cukup deras menyapa debu dan asap kota metropolitan ini. Sedikit nekat untuk keluar kost-kostan untuk mencari makan karena perut sudah menggelar orkestra musik yang kadang terdengar dengan jelas. Di tangga jembatan penyeberangan yang harus aku lalui untuk mencari makan sudah ada anak kecil dengan pakaian yang basah sembari menengadahkan tangan. “Om minta, Om”. Suara lirih yang terucap dari mulutnya. Tapi aku hanya melintas begitu saja sambil melambaikan tangan pertanda tidak. “Ah, dasar pelit”. Kalimat itu terdengar jelas ditelingaku, tetapi aku tetap saja melanjutkan langkahku. Semula aku tidak menghiraukan ucapan anak kecil tadi. Baru ketika makan di angkringan dengan menu 2 bungkus nasi kucing, 2 tempe goreng bakar, kepala ayam bacem, dan segelas teh hangat manis, mulai terasa apa yang diucapkan anak kecil tadi. “Apa iya aku sepelit itu?”. Pertanyaan yang terus melintas dipikiran ketika menghabiskan segelas teh hangat. Sampai akhirnya aku pulang menuju kost-kostan dan mencuri-curi pandang apakah anak kecil yang ada di jembatan penyeberangan tadi masih ada. Hasilnya nihil, dia sudah menghilang entah kemana. Pintu depan kost-kostan sudah aku buka, kemudian duduk sejenak diatas bangku yang sedikit basah akibat air hujan tadi. Sambil mencerna ucapan anak kecil tadi. Alhamdulillah masih disentil oleh anak kecil tadi dengan ucapan singkatnya. Mungkin saja aku memang masih pelit dengan-Mu dan belum bisa konsisten untuk bersedekah.
*Yang udah punya niat baik buruan disegerakan, daripada menunggu untuk disentil seperti saya*
Dari jaman SMP sampai sekarang, video ini masih sangat enak untuk dinikmati.:)

Asap pekat, panas, macet, itulah kesan pertama yang sangat tidak menggodaku. Kehidupan disini seperti packet data yang diroutingkan dengan source dan node yang sudah pasti. Lihat saja begitu berjubelnya jalanan ketika pagi dan petang hari atau ramainya lorong-lorong halte busway. Tapi pasti ada alasan aku mau mengunjungi kota ini dan menjadikannya sebagai tempat perantauan yang baru. Setelah Bandung, kini Jakarta adalah kota selanjutnya. Suka tidak suka, kota ini akan aku tempati paling tidak setahun kedepan. Sunter, Tebet, Tegalparang, Mampang Prapatan, Semanggi, hanyalah secuil dari Jakarta yang baru aku kenal. Daerah-daerah yang pernah dan masih singgah diingatan kepala.
Setelah sekitar satu bulan aku berdiam di rumah, aku jadi teringat bahwa aku punya mama. Ya, mama. Aku sendiri punya ibu, ya tentu saja ia adalah orang yang melahirkanku ke dunia ini. Untuk sebagian orang, mama dan ibu hanyalah sekedar panggilan yang tak jauh beda dengan ummi, emak, ataupun simbok. Tapi bagiku, mama dan ibu adalah 2 orang yang berbeda.
Ketika aku masih kecil dulu ketika masih tinggal di asrama tentara, ibu bukanlah orang satu-satunya yang memberiku ASI. Masih ada satu orang lagi yaitu tetanggaku yang saat itu juga punya anak kecil seusia denganku. Ibu bekerja sebagai guru SMP. Berangkat pagi dan pulang siang selalu menjadi rutinitas yang dimilikinya. Saat ibu sedang bekerja, ya mau tidak mau aku harus diemong oleh orang lain. Kata ibu, ASI sangatlah penting bagi putra sulungnya ini
Hingga akhirnya selama ibu bekerja pagi hingga siang, aku diberi ASI oleh tetanggaku tersebut. Dan akhirnya aku selalu memanggilnya mama. Ya, bisa dikatakan aku punya 2 ibu my opinioin.
Sekarang semua anak-anak mama sudah tumbuh besar. Secara islam, mereka adalah muhrimku juga. Walaupun aku mejadi anak pertama di rumah, tapi aku memiliki kakak perempuan dan kakak laki-laki dari mama. Kakak perempuanku sudah menjadi perawat rumah sakit di Solo, sedangkan kakakku mengikuti abahnya untuk menjadi seorang tentara. Bahkan sekarang kakakku sedang bertugas di Papua, yang kini sedang bergejolak dan penuh intervensi asing.
Sebenarnya sudah terlalu lama untuk posting salah satu berita bahagia ini. Bagaimana tidak, wisuda yang digelar tanggal 23 Juli 2011 baru sempat aku posting sekarang *maklum, blogger jarang update* =,=”
Dulu-dulunya sih, kampus cuma ngadain wisuda 2 kali dalam setahun, periode Maret dan Oktober. Tapi sekarang periode wisuda udah berubah menjadi 3 kali, periode Maret, Juli, dan Oktober. Dan diriku berkesempatan menjadi slah satu orang yang merasakan Wisuda Juli untuk pertama kalinya di kampus mewah mefet sawah.
Dari tahun ke tahun, biasanya ketika acara wisuda hanya menjadi orang yang memberikan selamat kepada teman-teman yang diwisuda. Tapi sekarang giliranku yang mendapat ucapan selamat itu.
*Hatur nuhun buat temen-temen asisten Lab AccessNet dan Ikemas yang sudah ngeramein wisuda* ^^
Si Kuda Besi, hampir 10 tahun waktu yang dihabiskan bersama. Jalanan Solo sudah menjadi sirkuit balap dan saksi bisu kecepatanmu ketika muda dahulu. Jalanan Bandung sudah tidak asing bagimu. Dan yang paling gila adalah jalanan dari Bandung menuju Solo via jalur pantura. Berkat dirimu aku pertama kali mencium hitamnya aspal Cadas Pangeran dan tikungan Gembongan-Kartosuro. Ya, mencium hitamnya aspal dengan gaya rider MotoGP yang ‘ndelosor’ terpontang-panting.
Sekarang waktunya untuk berpisah. Kenangan 10 tahun itu tidak akan pernah pudar. Teriknya Solo dan banjirnya Bandung sudah pernah kita lalui. Semoga mendapatkan pemilik yang bisa merawat dirimu dengan jauh lebih baik.Jangan “nakal” dan “manja” ya, maklum kamu sudah cukup tua
Adios ![]()